BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Data Perencanaan
![]() |
Gambar 1.1 Tampak memanjang jembatan
Ketentuan:
- Jarak titik buhul (l) = 4 m
- Panjang bentang (L) = 48 m
- Sudut vakwerk (a) = 45o
- Tinggi jembatan (H) = 4 m
- Lebar jembatan (B) = 10 m
- Lebar trotoar = 2 × 1,15 m
- Bahan rangka jembatan = baja (σy = 2900 kg/cm2)
- Letak lantai kendaraan = di bawah
- Bahan lantai kendaraan = beton bertulang + aspal
- Alat Sambung = baut (σy = 2900 kg/cm2)
Diminta:
Perencanaan dan gambar konstruksi jembatan dengan ketentuan diatas.
1. 2 Data Pedoman dan Peraturan Perencanaan
1.2.1. Pedoman Perencanaan
Dalam perencanaan jembatan jalan raya digunakan pedoman dan peraturan pembebanan serta syarat teknis lainnya untuk mencapai perencanaan yang ekonomis.
Peraturan yang digunakan dalam perencanaan jembatan jalan raya adalah:
1. Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR. 1987);
2. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI 1971);
3. SNI 03-2847-2002, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung;
4. Grafik dan Tabel Perencanaan Beton Bertulang (Vis – Kusuma 1997), seri 4;
5. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI – 1983);
6. SK. SNI T – 15 – 1991 – 03; dan
7. Daftar Profil Baja.
1.2.2 Beban Hidup
Beban hidup yang ditinjau terdiri atas :
a. Beban “T”
Beban “T” adalah beban yang merupakan kendaraan truk yang mempunyai
beban roda ganda sebesar 10 ton.
b. Beban “D”
Beban “D” adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari
beban garis P = 12 ton dan beban terbagi rata sebagai berikut:
q = 2,2 t/m untuk L < 30 m.
q = 2,2 t/m - {(1,1/60) × (L – 30)} t/m untuk 30 m < L < 60 m.
q = 1,1{1 + (30/L)} untuk L > 60 m.
Ketentuan penggunaan beban “D” dalam arah melintang jembatan sebagai berikut:
- Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan < 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh jembatan.
- Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan > 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur 5,50 m sedangkan lebar selebihnya dibebani hanya separuh beban “D” (50%).
1.2.3 Beban Kejut
Untuk memperhitungkan pengaruh-pengaruh getaran dan pengaruh-pengaruh dinamis lainnya, tegangan-tegangan akibat beban garis (P) harus dikalikan dengan koefisien kejut yang akan memberikan hasil maksimum, sedangkan beban merata “q” dan beban “T” tidak dikalikan dengan koefisien kejut.
Koefisien kejut ditentukan dengan rumus :
K = 1 +
dimana: K = koefisien kejut
L = panjang bentang (m)
1.2.4 Gaya Rem
Pengaruh gaya rem diperhitungkan sebesar 5 % dari beban “D” tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada, dan dalam satu jurusan. Gaya rem dianggap bekerja horizontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,80 m di atas permukaan lantai kendaraan.
1.2.5 Beban Angin
Pengaruh beban angin sebesar 150 kg/cm2 pada jembatan ditinjau berdasarkan bekerjanya beban angin horizontal terbagi rata pada bidang vertikal jembatan dalam arah tegak lurus sumbu memanjang jembatan. Jumlah luas bidang vertikal bangunan atas jembatan yang dianggap terkena oleh angin ditetapkan sebesar suatu persentase tertentu terhadap luas bagian-bagian sisi jembatan dan luas bidang vertikal beban hidup. Bidang vertikal beban hidup ditetapkan sebagai suatu permukaan bidang vertikal yang mempunyai tinggi menerus sebesar 2 m di atas lantai kendaraan.
Dalam menghitung jumlah luas bagian-bagian sisi jembatan yang terkena angin dapat digunakan ketentuan sebagai berikut:
1. Keadaan tanpa beban hidup
- Untuk jembatan gelagar penuh = 100 % luas bidang sisi jembatan yang langsung terkena angin + 50 % luas bidang sisi lainnya.
- Untuk jembatan rangka = 30% luas bidang sisi jembatan yang langsung terkena angin + 15 % luas bidang sisi lainnya.
2. Keadaan dengan beban hidup
- Untuk jembatan diambil 50 % terhadap luas bidang menurut ketentuan butir nomor 1 (keadaan tanpa beban hidup).
- Untuk beban hidup diambil 100 % luas bidang sisi yang langsung terkena angin.
3. Jembatan menerus di atas lebih dari 2 perletakan
- Untuk perletakan tetap perlu diperhitungkan beban angin dalam arah longitudinal jembatan yang terjadi bersamaan dengan beban angin yang sama besar dalam arah lateral jembatan, dengan beban angin masing-masing sebesar 40 % terhadap luas bidang menurut ketentuan butir nomor 1 (keadaan tanpa beban hidup).
- Untuk jembatan yang memerlukan perhitungan pengaruh angina yang teliti, harus diadakan penelitian khusus.
1.2.6 Beban Trotoar, Kerb dan Sandaran
Konstruksi trotoar harus diperhitungkan terhadap beban hidup sebesar 500 kg/m2. Kerb pada tepi lantai kendaraan harus diperhitungkan untuk dapat menahan satu beban horizontal kearah melintang jembatan sebesar 500 kg/m2 yang bekerja pada puncak kerb yang bersangkutan.
Tiang-tiang sandaran pada setiap tepi trotoar harus diperhitungkan untuk dapat menahan beban horizontal sebesar 100 kg/m’, yang bekerja pada tinggi 90 cm di atas lantai trotoar.
1.2.7 Kombinasi Pembebanan dan Gaya
Konstruksi jembatan beserta bagian-bagiannya harus ditinjau terhadap kombinasi pembebanan dan gaya yang mungkin bekerja. Sesuai dengan sifat serta kemungkinan-kemungkinan pada setiap beban, tegangan yang digunakan dalam pemeriksaan kekuatan konstruksi yang bersangkutan dinaikkan terhadap tegangan yang diizinkan sesuai keadaan elastis. Adapun tabel kombinasi pembebanan dan gaya adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1 Kombinasi pembebanan dan gaya
| Kombinasi Pembebanan dan Gaya | Tegangan yang digunakan terhadap tegangan izin |
| I. M + ( H + K ) II. M + A III. M + ( H + K ) + R + A IV. M + G V. M IV. M + ( H + K ) | 100 % 125 % 140 % 150 % 130 % 150 % |
dimana: M = Beban mati;
H = Beban hidup;
K = Beban kejut;
A = Beban angin;
R = Gaya rem;
G = Beban horizontal ekivalen akibat gempa bumi.
