Cari Blog Ini

Senin, 25 Oktober 2010

PENGARUH PENAMBAHAN SERAT TULANG BULU AYAM TERHADAP KUAT TARIK LENTUR BETON

PENDAHULUAN
Beton merupakan suatu bahan bangunan atau bahan konstruksi yang sekarang ini menunjukkan penggunaan yang relatif besar di berbagai pekerjaan, seperti pada gedung, jembatan, bendungan, tower dan sebagainya. Kelebihan beton yang menonjol dibanding material lain adalah kuat tekannya yang relatif tinggi. Beton juga memiliki kelemahan, yaitu kurang mampu menahan gaya tarik karena sifatnya yang getas.
Penggunaan beton sebagai bahan bangunan telah sangat lama digunakan sebagai bahan bangunan sipil. Hal ini disebabkan beton mudah untuk dibentuk/dicor sesuai dengan bentuk penampang dan ukuran yang diinginkan, mudah dalam pelaksanaannya dan biaya perawatan yang relatif murah.
Beton merupakan bahan konstruksi yang dibuat dari pencampuran antara semen, agregat (kasar dan halus), serta air dengan perbandingan tertentu. Bahan-bahan tersebut akan mengeras karena adanya proses pengikatan kimia antara air dan semen. Untuk memperoleh sifat-sifat tertentu pada beton, maka pada campuran beton diberi bahan tambahan (additive) atau bahan campuran (admixture), seperti pada proses pengerasan dan pengikatan semen, meningkatkan keawetan (durability), mengurangi penyusutan (shrinkage), serta untuk meningkatkan mutu beton (strengthening).
Salah satu kelemahan beton adalah rendahnya kekuatan tarik yang mampu dipikulnya. Teknologi beton saat ini telah mengembangkan penggunaan serat (fiber) untuk memperbaiki kelemahan tarik beton tersebut. Konsep dasar yang ingin dicapai yaitu untuk menanggulangi beton dengan serat yang tersebar secara merata kedalam adukan beton, sehingga dapat mencegah terjadi retakan yang terlalu dini.
Banyak jenis serat yang telah digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat beton, diantaranya adalah serat alami ataupun serat buatan/sintetik. Serat alami yang sering digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat beton seperti serat ijuk, sabut kelapa, atau serat tumbuhan yang lain, sedangkan untuk serat buatan/sintetik seperti acrylic, aramid, nylon, polyester, polypropylene, dan lain-lain. Pada penelitian ini akan digunakan serat alami yaitu tulang bulu ayam.
Pada dasarnya bagian bulu ayam yang menjadi buangan masih dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal seperti untuk kemoceng, lukisan dan dapat pula dijadikan pakan untuk makanan ternak. Banyaknya jumlah ayam yang dipotong meningkatkan jumlah limbah bulu ayam yang dihasilkan, dan sekaligus menimbulkan permasalahan apabila tidak dikelola dengan baik. Penerapan teknologi pengolahan bulu ayam yang tepat akan memberi manfaat yang besar, antara lain mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan bulu ayam yang tidak tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan serat tulang bulu ayam terhadap kuat tarik lentur beton normal.
Penelitian ini dilakukan pada Laboratorium Konstruksi dan Bahan Bangunan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Benda uji yang dibuat menggunakan tiga variasi dengan persentase serat dan diameter agregat maksimum. Persentase serat tulang bulu ayam yaitu 0,2%; 0,4%; 0,6% dan variasi diameter agregat maksimum yaitu 19,1 mm; 25,4 mm; dan 31,5 mm dengan Faktor Air Semen (FAS) 0,4 dan panjang serat 50 mm. Pemilihan campuran dengan FAS 0,4 ini disebabkan semen dapat mengikat air sekitar 40% dari beratnya; dengan kata lain air sebanyak 0,4 kali berat semen telah cukup untuk membentuk seluruh semen berhidrasi. Air yang berlebih akan tinggal dalam pori-pori dan hanya akan menyebabkan pori-pori bertambah banyak, akibatnya kekuatan serta masa pakai beton berkurang.
Pengujian yang dilakukan hanya berupa pengujian kuat tarik lentur dari beton normal dengan penambahan serat tulang bulu ayam. Pengujian kuat tarik lentur pada benda uji balok dengan ukuran (15 × 15 × 60) cm sebanyak 72 buah. Hasil pengujian ini akan dibandingkan dengan kuat lentur beton normal tanpa menggunakan serat  tulang bulu ayam.
                        Hasil penelitian menunjukkan penambahan serat tulang bulu ayam dengan variasi diameter agregat maksimum mempengaruhi kuat tarik lentur beton normal. Pengaruh penambahan serat tulang bulu ayam terjadinya penurunan kuat tarik lentur beton pada semua persentase penambahan serat tulang bulu ayam dengan variasi diameter agregat maksimum. Beton yang menggunakan agregat maksimum diameter 19,1 mm mengalami penurunan kuat tarik lentur sebanding dengan bertambahnya jumlah serat tulang bulu ayam pada umur 7 dan 28 hari, paling besar terjadi penurunan 22% dengan persentase serat tulang bulu ayam 0,6% pada umur 7 hari dan 28 hari, paling kecil terjadi penurunan 7% dengan persentase serat tulang bulu ayam 0,2% pada umur 7 hari. Beton dengan agregat maksimum 25,4 mm mengalami penurunan kuat tarik lentur sebanding dengan bertambah serat tulang bulu ayam pada umur 28 hari saja, sedangkan pada umur 7 hari mengalami penurunan paling kecil 8% dengan persentase serat tulang bulu ayam 0,4%, penurunan paling besar 19% dengan persentase serat tulang bulu ayam 0,4%. Sedangkan pada beton dengan agregat maksimum 31,5 mm mengalami penurunan paling kecil 6% pada beton dengan persentase serat tulang bulu ayam 0,2% umur 7 hari, paling besar penurunan 27% pada beton dengan persentase serat tulang bulu ayam 0,6% pada umur 28 hari.